Minggu, 22 Maret 2015

MAKALAH KEPRIBADIAN MARXIAN



A.       PENDAHULUAN
Tesis dasar Erich Fromm menyatakan bahwa manusia pada masa modern ini telah terpisah dari kesatuan prasejarah mereka dengan alam dan juga satu sama lain, namun memiliki kekuatan akal, antisipasi dan imajinasi. Paduan akan kurangnya insting kebinatangan dan adanya pikiran rasional menjadikan manusia sebagai suatu keganjilan dalam alam semesta.[1]
Fromm dapat digelari sebagai teoritisi kepribadian marxian karena pandangannya sangat dipengaruhi oleh Karl Marx. Namun dia sendiri memilih nama teorinya “ Humanis Dialektik” karena yang ingin dia tunjukkan adalah perhatiannya terhadap perjuangan manusia yang tidak pernah menyerah untuk memperoleh martabat dan kebebasan, dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia untuk berhubngan dengan orang lain.[2]
Dengan latar belakang pendidikan ajaran psikoanalisis Freud dan dipengaruhi oleh Karl Marx, Karin Horney dan teoretikus berorientasi sosial lainnya, Fromm mengembangkan kepribadian yang menekankan pengaruh faktor sosiobiologis, sejarah, ekonomi dan struktur kelas.[3]
Seperti juga pandangan teoritikus kepribadian lainnya pandangan Erich Fromm akan sifat manusia terbentuk oleh pengalaman masa kecil mereka. Bagi Froom, kehidupan warga yahudi, bunuh dirinya seorang wanita muda, dan nasionalisme extrem bangsa Jerman berkostribusi dalam pemikirannya akan kemanusiaan.


PEMBAHASAN
A.    Asumsi Dasar Fromm
Asumsi dasar Fromm adalah bahwa kepribadian individu dapat dimengerti hanya dengan memahami sejarah manusia. “diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta bahwa kepribadian, [dan] psikologi harus didasari oleh konsep antropologis-filosofis akan keberadaan manusia” .
Fromm (1947) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “tercerai berai” dari kesatuan prasejarahnya dengan alam.  Mereka tidak memiliki insting kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, melainkan mereka telah memperoleh kemampuan bernalar- keadaan yang disebut Fromm sebagai  dilema manusia. Manusia mengalami dasar ini karena mereka telah terpisah dengan alam, namun memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa diri mereka telah menjadi makhluk yang terasing. Oleh karenanya, kemampuan bernalar manusia adalah anugerah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini membiarkan manusia bertahan, namun disisi lain, hal ini memaksa manusia berusaha untuk menyelesaikan dikotomi dasar yang tidak ada jalan keluarnya. Fromm menyebut hal tersebut sebagai “dikotomi eksistensial” (existensial dichotomies) karena hal ini berakar dari keberadaan atau eksistensi manusia. Manusia tidak menghapuskan dikotomi eksistensial ini. Mereka hanya bisa bereaksi terhadap dikotomi ini tergantung pada kutur dan kepribadian masing-masing individu.[4]
Dikotomi pertama dan paling fundamental adalah antara hidup dan mati. Realisasi diri dan nalar mengatakan bahwa kita akan mati, namun kita berusaha mengingkari hal ini dengan menganggap adanya kehidupan setelah kematian, usaha yang tidak merubah fakta bahwa hidup kita kan diakhiri dengan kematian.
Sikotom eksistensial kedua dalah bahwa manusia mampu membentuk konsep tujuan dar realisasi diri utuh, namun kita juga menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan itu.
Dikotomi eksistensial ketiga adalah bahwa manusia pada akhirnya hanya sendiri, namun kita tetap tidak bisa menerima pengucilan atau isolasi.[5]
B.     Kebutuhan Manusia
Pada umumnya kata “kebutuhan” diartikan sebagai kebutuhan fisik, yang oleh Fromm dipandang sebagai kebutuhan aspek kebinatangan dari manusia, yakni kebutuhan makan, minum,seks, dan bebas dari rasa sakit. Kebutuhan manusia dalam arti kebutuhan sesuai dengan eksitensinya sebagai manusia, menurut Fromm meliputi dua kelompok kebutuhan; pertama kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu dan menjadi otonom, yang terdiri dari kebutuhan keterhubungan, keberakaran,menjadi pencipta,kesatuan, identitas. Kedua, kebutuhan memahami dunia, mempunyai tujuan dan memanfaatkan sifat unik manusia, yang terdiri dari kebutuhan frame of orientation, frame of devotion, excitation, stimulation, dn effectiviness.[6]
a.      Kebutuhan Kebebasan dan Keterikatan
1.      Keterhubungan
Kebuthan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dirinya sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain  yang dicintai, menjadi bagian dari sesuatu. Keinginan irasional untuk mempertahankan hubungannya yang pertama yakni hubungannya dengan ibu, kemudian diwujudkan kedalam perasaan solidaritas dengan orang lain. Hubungan paling memuaskan bisa positif yakni hubungan yang didasarkan pada cinta, perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pengertian dari orang lain, bisa negatif yakni hubungan yang didasarkan pada kepatuhan atau kekuasaan.
2.      Keberakaran ( rootedness)
Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan yang membuatnya merasa krasan di dunia (merassa seperti dirumahnya). Manusia menjadi asing dengan dunianya karena dua alasan; pertama, dia direnggut dari akar-akar hubungannya oleh situasi (ketika manusia dilahirkan, dia menjadi sendirian dan kehilangan ikatan alaminya), kedua, fikiran dan kebebasan yang dikembangkannya sendiri justru memutus ikatan alami dan menimbulkan perasaan isolasi / tak berdaya.
3.      Menjadi pencipta (transcendency)
Orang ingin mengatasi perasaan takut dan ketidakpastian menghadapi kemarahan dan ketak-menentuan semesta. Orang membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat pasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, berubah dari makhluk ciptaan menjadi pencipta.
4.      Kesatuan (unity)
kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakekat binatang dan non binatang dalam diri seseoarang. Keterpisahan, kesepian, dan isolasi semuanya bersumber dari kemandirian dan kemerdekaan “untuk apa orang mengejar kemandirian dan kemerdekaan kalau hasilnya justru kesepian dan isolasi?” dari dilema ini muncul kebutuhan unitas. Orang dapat mencapai unitas, memperoleh kepuasan (tanpa menyakiti orang lain dan diri sendiri) kalau hakikat kebinatangan dan kemanusiaan itu bisa didamaikan, dan hanya dengan berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya, melalui berbagi cinta dan kerjasama dengan orang lain.
5.      Identitas (identity)
Kebutuhan untuk menjadi “aku,” kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang terpisah. Manusia harus merasakan dan dapat mengontrol nasibnya sendiri, harus bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya nyata-nyata miliknya sendiri.


b.      Kebutuhan Untuk Memahami dan Beraktivitas
1.      Kerangka orientasi (frame of orientation)
Orang membutuhkan peta mengenai dunia sosial dan dunia alaminya, tanpa peta itu dia akan bingung dan tidak mampu bertingkah laku, dan kerangka orientasi adalah seperangkat keyakinan mengenai eksistensi hidup, perjalanan hidup bagaimana yang harus dikerjakannya, yang mutlak dibutuhkannya untuk memperoleh kesehatan jiwa.
2.      Kerangka kesetiaan (frame of devotion)
Kebutuhan untuk memiliki kebutuhan hidup yang mutlak; tuhan. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian makna hidup, menjadi dasa dari nilai-nilai dan titik puncak dari semua perjuangan.
3.      Stimulasi
Kebutuhan untuk melatih sistem syaraf, untuk memanfaatkan kemampuan otak. Manusia membutuhkan bukan sekedar stimulus sederhana(misalnya: puisi atau hukum fisiska).
4.      Keefektivan (effectivity)
Kebutuhan untuk menyadari eksistensi diri, melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi/ kemampuan.[7]
C.     Beban Kebebasan
Tesis utama dari setiap tulisan-tulisan Fromm adalah bahwa manusia telah terpisah dari alam, namun tetapi menjadi bagian dari alam semesta, subjek bagi batasan-batasan fisik sebagai hewan lain. Sebagai satu-satunya hewan yang memiliki kesadaran diri, imajinasi, dan akal pikiran, manusia adalah “suatu keganjilan dalam alam semsta “ (Fromm, 1955, hal 23).
Menurut sejarah, seiring manusia semakin memperoleh kebebasan ekonomi dan politik, mereka semakinn merasa terasing. Contohnya, selama abad pertengahan manusia memiliki kebebasan pribadi yang terbatas. Mereka terkurung peran yang diberikan oleh masyarakat, peran yang menyediakan rasa aman, tempat bergantung, dan kepastian. Kemudian, setelah mereka mendapatkan kebebasan untuk bergerak secara sosial dan geografis, mereka paham bahwa mereka bebas dari rasa aman saat beradadekat dengan ibunya. Ditingkat sosial dan individu, beban ini menciptakan kecemasan dasar (basic anxiety), yaitu perasaan bahwa kita sendirian di dunia.
o   Mekanisme Pelarian
Oleh karena kecemasan dasar menghasilkan rasa keterasingan dan kesendirian yang menakutkan, maka manusia berusaha untuk lari dari kebebasan melalui berbagai macam mekanisme pelarian. Fromm menyebutkan tiga mekanisme dasar dari pelarian yaitu :[8]
1.      Authoritarianism
Fromm (1941) mendefinisikan authoritarianism sebagai “kecenderungan untuk menyerahkan kemandirian seseorang secara individu dan meleburkannya dengan seseorang atau sesuatu diluar dirinya demi mendapatkan kekuatan yang tidak dimilikinya”. Kebutuhan untuk bersatu dengan mitra yang kuat ini dapat berupa dua hal: masokisme atau sadisme. Masokisme timbul dari rasa ketidakberdayaan, lemah,serta rendah diri dan bertujuan untuk menggubungkan diri dengan orang atau institusi yang lebih kuat. Usaha masokis sering berkedok sebagai cinta atau kesetian, namun berbeda dengan cinta dan kesetiaan, usaha tersebut tidak akan berkontribusi secara positif pada kemandirian dan otentisitas. Dibandingkan dengan masokisme, sadisme lebih neurotik dan lebih berbahaya secara sosial.
2.      Sifat Merusak
Sifat merusak berasal dari perasaan kesendirian, keterasingan, dan ketidak berdayaan. Namun berbeda dengan sadisme dan masokisme, sifat merusak tidak bergantung pada hubungan berkesinambungan dengan orang lain; melainkan mencari jalan untuk menghilangkan orang lain.
3.      Konformitas
Orang yang berusaha melakukan konformitas berusaha melarikan diri dari rasa kesendirian dan keterasingan dengan menyerahkan individualitas mereka menjadi apapun yng orang lain inginkan.
D.    Orientasi Karakter
Dalam teori Fromm, kepribadian tercermin pada orientasi karakter seseorang, yaitu cara relatif manusia yang permanen untuk berhubungan dengan orang atau hal lain. Fromm (1947) mendefinisikan kepribadian sebagai “keseluruhan kualitas psikis yang diwarisi dan diperoleh yang merupakan karakteristik individu dan menjadikannya individu yang unik.


[1] Jess Feitst, Gregory  J Feist, penerjemah:Hariandrianto, teori kepribadian edisi 7, salemba humanika, jakarta selatan, 2009, hal 224
[2]Psikologi kepribadian edisi revisi, UMM press, 2014, hal 121
[3]Ibid, hal 224

[4] Jess Feitst, Gregory  J Feist, penerjemah:Hariandrianto, teori kepribadian edisi 7, salemba humanika, jakarta selatan, 2009, hal 228

[5] Jess Feitst, Gregory  J Feist, penerjemah:Hariandrianto, teori kepribadian edisi 7, salemba humanika, jakarta selatan, 2009, hal 229
[6] Psikologi kepribadian edisi revisi, UMM press,2014 hal 123

[7] Psikologi kepribadian edisi revisi, UMM press, 2014, hal 124

[8] Jess Feitst, Gregory  J Feist, penerjemah:Hariandrianto, teori kepribadian edisi 7, salemba humanika, jakarta selatan, 2009, hal


Sabtu, 29 November 2014

pacaran


BAB II
PEMBAHASAN

A.              Definisi Pacaran
            Pacaran dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “pacar”, yang kemudian diberi akhiran–an.
            Dalam Bahasa Indonesia, pacar diartikan sebagai teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin, biasanya untuk menjadi tunangan dan kekasih. Dalam praktiknya, istilah pacaran dengan  tunangan sering dirangkai menjadi satu. Muda-mudi yang pacaran, kalau ada kesesuaian lahir batin, dilanjutkan dengan tunangan. Sebaliknya, mereka bertunangan  biasanya diikuti dengan pacaran. Agaknya, pacaran di sini, dimaksudkan sebagai proses mengenal pribadi masing-masing, yang dalam Islam disebut dengan “Ta’aruf”(saling kenal-mengenal).
Namun tidak semua bentuk pacaran itu bertujuan kepada jenjang pernikahan. Banyak diantara pemuda dan pemudi yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, sebab dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial dan persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga, mereka sangat belum siap.
B.              Tipe-Tipe Pacaran
Tipe pacaran menurut Muhammad Muhyidin dalam bukunya “Pacaran Setengah Halal Setengah Haram” terbagi menjadi dua, yaitu :
a.       Pacaran yang memperbodoh
Pacaran yang memperbodoh ini dapat didefinisikan secara ringkas sebagai wujud dari pacaran yang menjadikan sepasang kekasih terjauhkan dari nilai-nilai moral agama (moralitas agama).
 Secara lebih jelasnya, kita menemukan bahwa ternyata ada tiga maksud dari istilah pacaran yang memperbodoh diri menurut sudut pandang kita sebagai orang yang beriman, yaitu :
1.        Pacaran yang ditandai dengan perilaku sepasang kekasih yang berkencan berdua-duaan hingga melakukan hal-hal yang terlarang.
                  2.   Pacaran yang menyebabkan para pecinta mengalami kerusakan secara psikis.
                  3.   Pacaran yang menyebabkan para pecinta mengalami kerusakan fisik.
b.        Pacaran yang mencerdaskan
                              Pacaran yang mencerdaskan adalah apabila seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang terlibat hubungan asmara dan mereka bisa mencapai kebahagiaan, kenyamanan dan kedamaian karena menjadikan Allah SWT sebagai poros cinta mereka. Ialah pacaran yang menjadikan  Allah SWT., Sebagai pusat cinta, menjadikan keridhaan-Nya sebagai tujuan cinta, dan menjadikan cinta-Nya sebagai acuan untuk mengembangkan cinta di antara mereka.
          Dengan cara demikian, para pecinta dan para kekasih yang dicinta tidak akan pernah merasakan gejolak jiwa yang justru membuat diri mereka sendiri celaka. Kerinduan, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan dan sifat-sifat yang cenderung negatif lainnya sebagai sifat umum, yang dirasakan oleh para pecinta tidak akan membuat pecinta terluka oleh sebab yang dicinta tidak memenuhi harapannya.
C.      Pacaran Dalam Perspektif Hukum Islam
 Islam sebenarnya telah memberikan batasan-batasan dalam pergaulan antara laki-laki dengan perempuan. Misalnya, kita dilarang untuk mendekati zina. Seperti tersebut dalam surat Al-Isra’ ayat 32 :
 وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS.17:32)

Nabi Muhammad Saw bersabda :
”Hati-hatilah kamu untuk menyepi dengan wanita, demi zat yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya, tidak ada seorang lelakipun yang menyendiri dengan wanita, melainkan setan masuk di antara keduanya. Demi Allah, seandainya seorang laki-laki berdesakan dengan batu yang berlumuran (lumpur/ lempeng hitam ) yang busuk adalah lebih baik baginya dari pada harus berdesakan dengan pundak wanita yang tidak halal.”(Diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam kitab Al-Mu’jam al-Kabir Juz VIII h.205 dan 7830).
            Istilah pacaran secara harfiah tidak dikenal dalam Islam, karena konotasi dari kata ini lebih mengarah kepada hubungan pra-nikah yang lebih intim dari sekadar  media saling mengenal. Islam menciptakan aturan yang sangat indah hubungan lawan jenis yang sedang jatuh cinta, yaitu dengan konsep khithbah. Khithbah adalah sebuah konsep “pacaran berpahala” dari dispensasi agama sebagai media legal hubungan lawan jenis untuk saling mengenal sebelum memutuskan menjalin hubungan suami-istri. Konsep hubungan ini sangat dianjurkan bagi seseorang yang telah menaruh hati kepada lawan jenis dan bermaksud untuk menikah. Akan tetapi hubungan ini harus tetap terbingkai dalam nilai-nilai kesalehan, sehingga kedekatan hubungan yang bisa menimbulkan potensi fitnah sudah di luar konsep ini.
            Paparan di atas menunjukkan bahwa pacaran Islami itu sesungguhnya ada, jika yang dimaksud adalah penjajakan awal yang dilakukan dua orang calon pasangan suami istri. Tentu saja penjajakan tersebut dilakukan sekedar untuk mengetahui sifat-sifat kepribadian masing-masing tanpa melampaui norma-norma agama yang telah ditetapkan dalam ajaran suci. Sebaliknya, pacaran Islami bisa kita katakan tidak ada jika yang dimaksud adalah praktik mesum muda-mudi yang sering dilakukan dengan melampaui batas-batas ajaran agama.

D.             Konsep Islam Mengatur Hubungan Sepasang Remaja Yang Sedang Jatuh Cinta

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”(QS.3:14)
            Redaksi di atas tegas menjelaskan bahwa dalam diri manusia telah ditanam benih-benih cinta yang sewaktu-waktu bisa tumbuh ketika menemukan kecocokan jiwa. Cinta dalam Islam tidak dilarang, karena ia berada di luar wilayah kendali manusia.
            Agama tidak melarang seorang berkasih-kasihan dan bercinta, karena hal tersebut merupakan naluri makhluk. Hanya saja agama menghendaki kesucian dan ketulusan dalam hubungan itu, sehingga ditetapkannya pedoman yang harus diindahkan oleh setiap orang,  sehingga mereka tidak terjerumus di dalam fahisyah (zina dan kekejian lainnya).
            Sedangkan konsep Islam dalam mengatur hubungan antara sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dan benar-benar telah berkeinginan untuk menikah adalah disunahkan segera menikah apabila sudah berhasrat serta calon suami mampu membayar mahar dan menafkahi. Prosedur yang dibenarkan bagi laki-laki yang sungguh-sungguh berkeinginan meminang seorang wanita untuk lebih mengenal dan mengetahui karakternya adalah sebagai berikut :
       Ø Mengirim delegasi untuk menyelidiki  masing-masing pasangannya, dengan syarat delegasi tersebut harus adil, dapat dipercaya dan satu mahram atau satu jenis dengan calon yang diselidiki.
       Ø Berbincang-bincang, duduk bersama namun harus disertai dengan mahramnya.
       Ø Sebatas melihat  wajah dan telapak tangan saja (menurut syafi’iyah).
       Ø Tidak ada keraguan atau prasangka akan ditolaknya lamarannya.
Rasulullah pernah bersabda dalam Riwayat Jabir  berikut ini :

اذا خطب احدكم المراة فان استطاع ان ينظر منها الى ما يدعو الى نكاحها فليفعل
“Jika di antara kalian ada yang meminang perempuan maka jika ia bisa melihat si perempuan sesuai yang ia butuhkan untuk dinikahinya, maka hendaklah ia melakukan hal itu.”
            Selain langkah-langkah di atas, Nabi Saw., memberikan tips bagi seseorang yang hendak memilih pasangannya, yaitu mendahulukan pertimbangan keberagamaan daripada motif kekayaan, keturunan maupun kecantikan atau ketampanan.
E.              Adab Pergaulan Laki-Laki Dan Wanita Dalam Islam
Dr. Yûsuf Al-Qardhâwî (hafizhahullâh) memberikan 6 (enam) patokan hukum dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan, yaitu:
1.      Menahan pandangan dari kedua-belah pihak. Artinya, tidak boleh melihat 'aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat, tidak lama-lama memandang tanpa keperluan, sebagaimana firman Allâh :

        قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ........... 
Artinya :  "Katakanlah kepada orang-orang mumin laki-laki; hendaklah mereka menahan pandangan mata mereka dan memelihara kemaluannya................".(Surah An-Nûr (24):30)
Dan firman Allâh:

   وَ قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنَ أَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ..........
Artinya :  "Dan katakanlah kepada para mu'minât perempuan, agar mereka -- juga -- menahan pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka.......".(Surah An-Nûr (24):31)

2.         Pihak wanita harus mengenakan pakaian yang sopan yang dituntun syara', yang menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan, jangan tipis dan jangan dengan potongan yang menampakkan bentuk tubuh. Allâh berfirman :

           وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُوْرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ......

Artinya "...dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...".        (Surah An-Nûr (24).
Dengan pakaian tersebut, dapat dibedakan antara wanita baik-baik dengan wanita nakal. Terhadap wanita yang baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya, sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang yang melihatnya untuk menghormatinya.
3.   Mematuhi adab-adab wanita muslimah dalam segala hal, terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki.
·         Dalam perkataan, harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan. Allâh berfirman :

    فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَ قُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا
 Artinya:  ".........Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik". (Surah Al-Ahzâb (33):32)
·         Dalam berjalan, jangan memancing pandangan orang. Firman Allâh:

             وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتَهِنَّ..........

Artinya :  ".....Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan..." (Surah An-Nûr (24):31)
·         Dalam gerak, jangan berjingkrak atau berlenggang-lenggok, seperti yang disebutkan dalam hadits :

Artinya :"(Yaitu) wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan menjadikan hati laki-laki cenderung kepada kerusakan (kema'shiatan)". (H.R. Ahmad dan Muslim)

Jangan sampai ber-tabaruj (menampakkan 'aurat) sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita jahiliyyah tempo dulu ataupun jahiliyyah modern.

4.      Menjauhkan diri dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang seharusnya dipakai di rumah, bukan di jalan dan di pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.

5.      Jangan berdua-duaan (laki-laki dan wanita) tanpa disertai mahram. Banyak hadits shahîh yang melarang hal ini seraya mengatakan, "Karena yang ketiga adalah syaithân".
           
Jangan berduaan sekali pun dengan kerabat suami atau isteri. Sehubungan dengan ini, terdapat hadits yang berbunyi:
Artinya :"Janganlah kalian masuk ke tempat wanita". Mereka (shahabat) bertanya: "Bagaimana dengan ipar wanita?". Beliau menjawab: "Ipar wanita itu membahayakan".(H.R. Al-Bukhârî)

Maksudnya, berduaan dengan kerabat suami atau isteri dapat menyebabkan kebinasaan, karena bisa jadi mereka duduk berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.

6.      Pertemuan itu sebatas keperluan yang dikehendaki untuk bekerja sama, tidak berlebih-lebihan yang dapat mengeluarkan wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah, atau melalaikannya dari kewajiban sucinya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Muhyidin, (2008) Pacaran Setengah Halal dan Setengah Haram (Jogyakarta : Diva Press.
Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat : Kajian Fikih Nikah,…
Darul Azka dan M. Zainuri, 2006, Potret Ideal hubungan suami Istri,’Uqud al-Lujjayn  dalam disharmoni Modernitas dan Teks-teks Religious
Team Kodifikasi  Abiturien 2007, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pon-Pes Lirboyo Kediri.
http://tuntunanagamaislam.blogspot.com/2012/12/adab-pergaulan-laki-laki-dan-wanita.html